
Pada zaman dulu, kayu merupakan salah satu bahan bangunan utama dan paling di butuhkan karena mudah didapat dan mudah diolah serta kuat dalam pengaplikasiannya.
Penggunaannya sangat luas, mulai dari struktur utama bangunan hingga perabot rumah tangga. Berikut penjelasannya :
1. Material Kayu sebagai Struktur Utama Bangunan. Kayu digunakan sebagai kerangka dan penopang bangunan:
- Tiang dan balok: menopang atap dan lantai rumah.
- Rangka dinding: pada rumah panggung atau rumah tradisional (seperti Rumah Adat Tongkonan, Rumah Gadang, dan Joglo).
- Rangka atap: digunakan untuk kuda-kuda dan usuk.
2. Material Kayu sebagai Dinding dan Lantai.
- Kayu dipakai sebagai papan dinding rumah panggung atau rumah adat di daerah beriklim lembap.
- Lantai kayu (papan atau geladak) digunakan karena tidak menyerap dingin dan mudah dibersihkan.
3. Material Kayu sebagai Kusen rangka pintu, jendela.
- Kayu digunakan untuk rangka jendela, pintu, dan ventilasi karena bisa dipahat dan diukir.
- Banyak ornamen dan ukiran khas daerah dibuat dari kayu, menambah nilai estetika.
4. Material Kayu sebagai Perabot Rumah Tangga.
- Meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak, dan lantai interior semuanya dibuat dari kayu.
- Kadang dihias dengan ukiran sebagai simbol status sosial dan keindahan.
5. Material Kayu sebagai bahan tambahan. Selain untuk bangunan, kayu juga digunakan untuk:
- Peralatan rumah tangga (sendok, lesung, wadah).
- Peralatan pertanian (cangkul kayu, bajak tradisional).
- Bahan bakar sebelum adanya minyak dan gas.
Kayu dulunya menjadi bahan bangunan utama, tetapi di zaman sekarangposisinya mulai tergeseroleh bahan lain seperti beton, baja, dan material komposit. Ada beberapaalasan utama kenapa hal ini terjadi, antara lain :
1. Ketersediaan Kayu semakin terbatas.
- Penebangan hutan yang tidak terkendali membuat pasokan kayu menurun drastis.
- Pohon butuh waktu puluhan tahun untuk tumbuh kembali, sedangkan permintaan terus meningkat.
- Akibatnya, harga kayu keras berkualitas tinggi semakin mahal sehingga berdampak pada kesulitan mendapatkan pasokan kayu dengan harga terjangkau.
2. Munculnya material baru.
- Beton bertulang, baja ringan, dan panel komposit kini lebih disukai karena:
– Kuat menahan beban besar.
– Lebih awet dan tahan api.
– Perawatannya mudah dan biaya lebih stabil.
3. Biaya Produksi dan Pemeliharaan lebih mahal.
- Kayu berkualitas tinggi membutuhkan pengeringan, pelapisan anti-rayap, dan pengecatan berkala. Akibatnya penggunaan kayu menjadi kurang ekonomis untuk proyek besar.
4. Isu Lingkungan dan Regulasi.
- Banyak negara, termasuk Indonesia, membatasi penebangan liar untuk menjaga kelestarian hutan.
- Masyarakat juga semakin sadar akan pentingnya sustainability dan bangunan hijau.
- Kayu dari sumber ilegal bisa menyebabkan pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan.
5. Pergeseran Gaya Arsitektur
- Tren arsitektur modern cenderung minimalis dan industrial.
- Kayu kini lebih sering digunakan sebagai elemen estetika atau dekoratif, bukan struktur utama.
Kesimpulannya :
Di zaman modern, kayu kehilangan posisinya sebagai bahan utama karena keterbatasan sumber daya, risiko kerusakan, dan munculnya material baru yang lebih efisien.
Namun, kayu masih tetap bernilai tinggi sebagai material estetis, alami, dan ramah lingkungan bila digunakan secara berkelanjutan.
Kayu masih bisa bersaing di zaman sekarang, asal digunakan dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. Namun, perannya berubah bukan lagi sekadar bahan utama tradisional, tetapi kini menjadi material inovatif dan ramah lingkungan dalam konsep bangunan modern. Kayu belum kalah, hanya berevolusi. Jika dikelola secara bijak, kayu justru bisa menjadi primadona baru di era bangunan hijau dan arsitektur berkelanjutan.
Sumber :